I Can Jump Again!

November 10th, 2007 by suaragenerasibaru

IngeI had an accident on September 1993 when I was a student at Atma Jaya University, Yogyakarta, Indonesia. As I rode my motorcycle from campus, a woman on her motorcycle crashed onto me. I collapsed and was brought to the nearby hospital. My left leg had to be put in a cast because the bones were fractured.

Three months later the cast was opened. Alas, my leg shrivelled and I could not walk properly.

My parents brought me to an orthopedics in Solo, 60 km east of Yogyakarta. After examining my leg, the specialist, Dr. Tunjung Soeharso, said that the lower part of my leg had been infected and festered. Had I been late, my leg would have to be amputated.

Then, the doctor operated my ankle and set a pin for holding my bones together. Gradually my conditon was restored and in three months I could walk again. Yet, Dr. Tunjut said, my leg would be forever impaired because it had been crushed on the ankle. I would not be able to jump anymore and he suggested that I resigned from dancing ministry. He also told me that it’s very likely I would had a caesar operation if someday I had a baby.

In the end of 1994, Rusty came to Yogyakarta. He prayed for me, measured my legs, and I could jump immediately.

Now I was married (my husband is Petrus Joko Widodo) and is a happy mother of three boys (Axel, Ariel, and Abel). All of them were born normally! ***

– Inge Gunawan

Masa Depan Sungguh Ada

November 10th, 2007 by suaragenerasibaru

HendrosaputroSaya berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Orang tua saya bercerai semenjak saya berusia dua tahun, dan mereka tinggal di kota yang berbeda. Ayah saya tinggal di Malang, sementara Ibu saya dan saya tinggal di Samarinda. Sepanjang hidup saya, pertemuan saya dengan ayah dapat dihitung dengan jari.

Ibu saya, seorang janda dengan mata pencaharian sebagai tukang jahit, hanya mampu menyekolahkan saya hingga SLTA. Cara pandang saya waktu itu juga terbatas hanya dengan apa yang saya lihat, yang menyebabkan saya hanya bisa menerima keadaan. Meskipun ada keinginan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, dengan sendirinya impian kosong itu terkubur dalam. Kuliah merupakan hal yang paling mustahil untuk diimpikan saat itu.

Lulus sekolah saya ke Surabaya dengan harapan bisa mengubah nasib. Sempat terbersit untuk mengambil Diploma 1 di kota besar tersebut. Tapi toh tetap pupus juga karena, lagi-lagi, terbentur masalah biaya. Akhirnya saya mulai bekerja secara serabutan. Saya pernah bekerja menjadi buruh di sebuah industri kecil, kemudian bekerja sebagai cleaning service di Jakarta dan akhirnya kembali lagi ke Surabaya, bekerja sebagai karyawan toko komputer. Satu tahun hidup tanpa tujuan dan harapan, hari-hari yang ada saya lewatkan dengan bekerja secara serabutan.

Setahun kemudian, dengan uang hasil tabungan selama bekerja, saya nekat berangkat ke Jogja. Tidak ada yang saya kenal di kota ini, kecuali seorang teman yang juga akan kuliah di Jogja. Dengan bekal seadanya akhirnya saya mendaftar di sebuah LPK sebagai mahasiswa Diploma 1.

Setahun berjalan dengan sangat berat karena waktu itu krisis moneter mencapai titik tertinggi. Bekal keuangan saya ludes dalam waktu singkat. Salah satu hal yang masih membayang di benak saya hingga sekarang, pernah dalam lima hari saya hanya makan dua kali.

Tetapi, pada tahun itu juga saya “ditangkap” di jemaat ini. Saya menemukan Tuhan! Pada tahun yang sama, rohani saya dibangun, perlahan pola pikir dan cara pandang saya diubah, mental saya dibentuk. Sisi-sisi yang rusak dari kepribadian saya selama saya bertumbuh tanpa seorang ayah diperbaiki dan dipulihkan. Dan akhirnya, setahun kemudian saya dapat menyelesaikan kuliah.

Saya mengucap syukur atas pembentukan yang Tuhan lakukan selama saya berada di jemaat ini. Saya kian menyadari bahwa ada Pribadi yang mahabesar yang hidup di dalam saya. Saya mulai berani untuk memiliki mimpi dan harapan, yang dulunya hanya merupakan impian di siang bolong. Dengan menyadari adanya Pribadi yang besar itu, saya berani bangkit untuk meraihnya. Impian dan harapan yang sudah meredup kembali hidup.

Lulus Diploma 1, saya yakin ada kemuliaan yang lebih besar dari sekedar lulusan Diploma 1. Saya mencoba melompat keluar kapal saya untuk berani berjalan di atas air. Saya bertekat bekerja sebagai apa saja, yang penting saya bisa di Jogja, pikir saya waktu itu. Saya mau melakukan apa saja untuk tekad saya. Saya pernah bekerja menjadi sales keliling dengan berjalan kaki.

Setahun kemudian saya memanjatkan doa untuk impian saya yang paling mustahil, kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Tuhan menjawab doa saya. Saya mendaftar menjadi mahasiswa Diploma 3. Saya bernazar waktu itu, apabila saya bisa kuliah di kampus tersebut, saya akan memenangkan 12 orang untuk Tuhan (sekarang ada dua cell group di kampus tersebut).

Perjalanan meraih impian tidaklah mudah, saya tidak akan pernah dapat menyelesaikannya dengan kekuatan saya. Tiga tahun yang melelahkan. Saya teringat, setiap kali ujian akhir semester, saya pasti datang ke bagian keuangan untuk meminta dispensasi agar dapat mengikuti ujian. Saya belajar keras hingga saya pernah mendapatkan beasiswa keringanan bebas uang SPP selama dua semester.

Di penghujung tahun kelulusan, hampir kuliah saya terhenti karena biaya untuk kuliah sudah benar-benar tidak ada lagi. Waktu itu saya menyelesaikan TA saya, dan pada saat yang bersamaan, karena suatu masalah keluarga, rumah kami di Samarinda disita bank. Ketika saya menelepon Ibu saya untuk mengatakan bahwa saya mungkin tidak pernah bisa wisuda, jawaban Ibu saya membangkitkan iman saya kembali, “Kalau Tuhan mengizinkan kamu untuk memulainya, Dia Allah yang bertanggung jawab, Dia akan sertai kamu untuk menyelesaikannya.”

Kata-kata yang mendorong saya bisa menyelesaikan Diploma 3 saya. Bukan sama sekali karena kekuatan saya. Hanya dengan tetap tinggal melekat pada-Nya, kita dapat terus berjalan meraih hari depan yang penuh harapan.

Lulus Diploma 3, ada bagian diri saya yang bergolak, dan terus mengiang bahwa saya bisa mencapai yang lebih baik. Ini bukan ambisi, ini sebuah mimpi masa lalu yang pernah hilang. Saya bangkitkan iman untuk transfer kuliah ke jenjang S1. Saya tidak memiliki biaya sepeser pun waktu itu. Namun, pada saat yang sama dua orang dosen saya menawarkan pekerjaan sebagai pengajar. Secara beruntun, tawaran-tawaran pekerjaan terus bergulir. Hingga saya bisa terus kuliah sembari mengajar di beberapa lembaga pendidikan. Sungguh luar biasa, gaji yang saya miliki selalu Tuhan cukupkan untuk membayar biaya kuliah saya.

Hingga dua tahun kemudian, Desember 2004 lalu, saya berhasil meraih mimpi yang paling mustahil untuk seorang anak janda. Saya masih ingat saat kemenangan itu, Ibu saya menangis bangga sewaktu anaknya diwisuda.

Saya ada sebagaimana sekarang, karena satu rentang perjuangan panjang. Tuhan juga yang menyertai setiap perjuangan saya. Di depan saya masih ada mimpi dan harapan yang menanti, perjuangan belum berakhir. Dan, mimpi hanyalah sebuah fantasi apabila kita tidak pernah memiliki kekuatan untuk meraihnya. Satu-satunya kekuatan tak tertandingi hanya terdapat di dalam Dia yang hidup di dalam kita. ***

[Sewaktu menulis kesaksian ini, mata saya berkaca-kaca; betapa saya melihat pekerjaan tangan-Nya yang sungguh ajaib di dalam hidup saya]

– Didedikasikan untuk anak-anak rohani saya, para “Jesus’ Freakers”, jangan pernah menyerah meraih mimpi kalian!

– Hendro Saputro

Tidak Ada Natal Keluarga

November 10th, 2007 by suaragenerasibaru

Arie01_1Saya dibesarkan di tengah keluarga bhinneka tunggal ika. Orang tua saya adalah orang Jawa yang berpandangan bahwa agama adalah ageming aji (baju kehormatan diri). Mereka membebaskan anak-anak memilih agamanya masing-masing. Saya sendiri mengenal kekristenan, sederhana saja, karena diajak tetangga sebelah pergi ke Sekolah Minggu.

Syukurlah, sejauh ini perbedaan agama itu tidak pernah menjadi sumber konflik dalam hubungan persaudaraan kami. Ibu saya pernah berkomentar dengan bangga, "Kami di sini ini Pancasila, kok. Ada Alquran, ada Injil, ada Tripitaka. Mau apa saja, silakan."

Kami setiap tahun bersama-sama merayakan Lebaran, dan saya lebih merasakannya sebagai hari raya orang Jawa. Anak kecil mana yang tidak senang menyalakan petasan dan kembang api, keliling naik andong, sungkem ke sana kemari sambil menikmati suguhan makanan enak, dan tidak jarang diselipi uang saku? Yah, Lebaran adalah kesempatan untuk bersenang-senang sambil bersilaturahmi dan mempererat hubungan persaudaraan dengan tetangga dan keluarga besar.

Namun, saya belum pernah merasakan Natal bersama seluruh keluarga. Mudah dimaklumi. Natal, dalam pandangan masyarakat kita pada umumnya, masih terkemas sebagai hari raya khusus orang Kristen, yang berkonotasi dengan Barat. Belum terpadu sebagai bagian dari budaya lokal sebagaimana Lebaran.

Tentu saja lalu tak ada kebiasaan mengenakan baju baru, memasang hiasan dan pohon terang, atau menyiapkan hidangan Natal bila hari besar itu menjelang. Natal hanyalah perayaan di gereja, atau di sekolah. Hebatnya, pelaksanaan acaranya bisa sejak awal Desember sampai pertengahan Januari. Jadi, selama sebulan lebih, ada saja perayaan di berbagai tempat yang bisa saya datangi. Natal Sekolah Minggu, Natal umum, Natal bersama Kristen-Katolik, Natal di sana, Natal lagi di situ.

Beberapa minggu sebelumnya bersama-sama teman Sekolah Minggu kami sudah berlatih untuk mengisi acara pada perayaan Natal di gereja. Bisa menghapalkan ayat, paduan suara, drama, kelompok vokal, atau pembacaan puisi. Ya, seingat saya, belum pernah saya ikut dalam kelompok tari untuk pertunjukan Natal.

Namun, sudah bisa ditebak, rangkaian acaranya tidak terlalu bervariasi dari tahun ke tahun. Karena itu, seandainya ada yang menanyai saya, apa kenangan Natal masa kecil yang paling berkesan, saya akan mengerutkan dahi. Tentu saya tidak memungkiri, suasana Natal cenderung menggugah rasa kangen dan sukacita tersendiri. Namun, kalau mesti menuturkan sejumput kisah khusus yang mengesankan, saya mesti berusaha keras membongkar arsip perpustakaan kenangan saya.

Salah satu kenangan yang cukup mengesankan itu berkaitan dengan ibu saya. Meskipun beliau sendiri tidak pergi ke gereja, ibu selalu mendukung saya untuk beribadah. Ia mengajari saya dan kakak saya untuk berdoa sebelum tidur. Sebuah doa generik: doa tanpa “di dalam nama Yesus”. Baru setelah saya lumayan besar, dan meniru kebiasaan berdoa di gereja, saya tambahkan sendiri frasa itu.

Istimewanya, setiap saya hendak pergi ke Sekolah Minggu, ibu menyediakan uang saku khusus untuk saya berikan sebagai pisungsung (persembahan). Karena itu, pisungsung saya bisa mencapai seratus rupiah. Kalau tidak salah ingat, waktu itu dengan uang sebanyak itu kita masih bisa menikmati dua-tiga mangkuk baso.

Ibu melakukannya secara teratur. Alasannya?

“Kalian itu, kalau sudah Natalan, Paskahan, atau acara apa lagi, ‘kan pasti keluar uang banyak, padahal semuanya tanpa pungutan biaya. Kalau mau memberi sumbangan sebelum acara, belum tentu uangnya ada. Ya, hitung-hitung kita cicil saja seminggu sekali,” kata ibu.

Ibu saya – bukan seorang teolog, bahkan seorang Kristen pun bukan – telah mengajari saya tentang pemberian. Kebiasaan ibu tersebut secara tidak langsung menanamkan pada diri saya kesadaran bahwa kita pada dasarnya memberi karena kita telah terlebih dahulu diberi. Pemberian, dengan demikian, bukan sekadar pernyataan dukungan bagi orang-orang di sekitar kita, namun juga suatu ungkapan rasa syukur.

Ketika saya semakin besar, dan dapat memahami Alkitab secara lebih baik, saya menemukan bahwa ternyata pelajaran itu sejajar dengan ajaran Alkitab: Kita mengasihi karena Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Segala sesuatu saya lakukan bukan untuk mendapatkan kemurahan Allah, melainkan sebagai ungkapan rasa syukur karena anugerah-Nya telah terlebih dahulu dicurahkan bagi saya. Bukankah itu juga sebagian dari pesan Natal?

Dalam beberapa kesempatan, ibu meluangkan waktu untuk memenuhi undangan menghadiri Natal di gereja. Senang rasanya ikut menyanyi dalam paduan suara atau bermain drama Natal, beraksi di panggung, dan menyadari bahwa ibu sedang menyaksikan dengan penuh rasa bangga, tersenyum di antara para penonton.

Sekali lagi saya mendapatkan sebuah pelajaran berharga: Bagaimana pula aksi kita di atas panggung kehidupan ini saat kita menyadari bahwa Allah Bapa, dengan penuh rasa bangga pula, menyaksikan di surga sana?

Pelajaran-pelajaran kecil namun berharga semacam itulah yang mewarnai kenangan saya akan Natal.

Kini, setelah saya berkeluarga, saya masih belum menemukan ide bagaimana mengadakan perayaan Natal khas keluarga kami. Kami biasa melewatkannya bersama komunitas jemaat, dengan drama Natal yang entah bagaimana kerap berpuncak pada penyaliban! Selain itu, kami meluangkan waktu untuk bersilaturahmi kepada sejumlah keluarga kenalan dekat. Kalau masih sempat, saya akan memutar It’s a Wonderful Life, The Sound of Music atau The Lord of the Rings – film-film yang saya anggap cocok untuk merayakan Natal.

Yang saya tahu, semangat dan sukacita Natal semestinya bukan hanya marak pada setiap 25 Desember, melainkan memenuhi hati kita setiap hari sepanjang tahun. Bukankah begitu? ***

– Arie Saptaji
Kesaksian ini dimuat juga di buku My Favourite Christmas (Gloria Cyber Ministries, 2006).

Kutemukan Sahabat Sejati

November 10th, 2007 by suaragenerasibaru

IrfanDulu aku anak yang tanpa harapan dan hidup nakal. Serba kacau, pokoknya. Tidak ada yang memperhatikan hidupku. Aku merasa dianaktirikan oleh keluargaku. Aku tinggal dengan kedua nenek dan kakekku.

Ternyata hal itu mulai menumbuhkan sebuah akar yang pahit. Aku berpikir tidak ada orang yang menganggap keberadaanku. Aku merasa sendiri dan semua orang telah menjauh dariku. Bertahun-tahun sudah aku lalui dengan kesendirian tanpa ada orang yang memperhatikan. Aku pergi dari kota ke kota aku, dan akhirnya aku tiba di Yogyakarta.

Aku berpikir, pasti akan adanya perubahan dengan apa yang sudah kualami dulu. Ternyata sama saja. Justru hidupku menjadi lebih parah dan kacau. Tetapi, dari situ aku mulai mau belajar untuk mencari sahabat untuk bisa saling bertukar pikiran, dan akhirnya aku mendapatkan seorang sahabat yang aku cari selama ini.

Selama sekian tahun aku bersahabat dengannya. Tetapi, sewaktu dia mengalami suatu masalah yang menghantam dirinya, kemudian dia mengecewakan aku karena banyak hal yang sudah kulakukan untuknya.

Aku lalu menjadi orang yang sok cuek, sombong, pemarah. Selama beberapa tahun aku kembali hidup sendiri sampai saya bertemu dengan seorang teman lama. Saya belajar untuk mempercayainya dan membangun persahabatan kembali dengannya, juga dengan orang-orang lain.

Suatu hari seseorang menyampaikan Injil Kristus kepada saya. Terus terang, sejak awal saya sudah tidak tertarik dengan hal itu. Namun, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya juga ingin berubah dari kehidupanku yang serba kacau ini.

Aku pun menyadari, sewaktu kita ingin berubah, kita harus mempunyai kerinduan yang kuat untuk. Tanpa itu, kita tidak akan berubah. Mungkin kita berubah juga, tetapi hanya berlangsung sementara. Tapi, kalau kita sungguh-sungguh ingin berubah dari dalam hati kita, kita akan berubah secara bertahap.

Dari situ saya mempunyai teman untuk berbagi cerita. Lama-kelamaan aku menemukan seorang Sahabat dekat dan Sahabat sejati, yaitu Yesus Kristus. Waktu aku sedih, Dia selalu menghiburku, menguatkan imanku untuk selalu bertumbuh di dalam Tuhan. Sewaktu aku merasa kering secara rohani, Tuhan selalu menyiramkan hadirat-Nya kepadaku dan menyegarkan kerohanianku. Kerinduanku yang paling dalam adalah mengenal kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. ***

– Irfan Maximilian

Keputusanku

November 10th, 2007 by suaragenerasibaru

AirwaysTahun 1998 saya berangkat dari daerah asal, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, untuk melanjutkan studi di kota pelajar ini, Yogyakarta. Awal-awal keberadaan saya di Yogya telah mengajarkan banyak hal buat kehidupan saya, terlebih sewaktu seseorang memperkenalkan Kristus kepada saya.

Saya dilayani, lahir baru dan berkomitmen melayani Tuhan dalam jemaat ini. Sedikit demi sedikit Tuhan membawa saya dari satu bagian ke bagian berikutnya. Hingga saat ini Tuhan mempercayakan kepada saya untuk menggembalakan salah satu sel group di Zona 2. Banyak hal yang saya dapatkan dan saya pelajari dalam jemaat ini yang telah membentuk kehidupan saya.

Saya menyelesaikan kuliah saya di jurusan Teknik Mesin Institut Sains dan Teknologi pada tahun 2004 lalu. Saya mengucap syukur, saya akhirnya dapat menyelesaikan kuliah saya. Ini berkat yang paling berharga dari perjalanan studi saya karena saya tahu, tidak mudah untuk menyelesaikan kuliah saya.

Menyelesaikan kuliah bukan berarti perjuangan saya selesai, tetapi justru awal dari kehidupan saya yang sebenarnya. Mulai dari waktu itu, saya diperhadapkan dengan dua pilihan sulit: mencari pekerjaan di luar kota yang banyak memberi peluang atau menetap di Yogya dengan keadaan seadanya. Bagi saya yang terlahir sebagai putra pertama dari empat bersaudara dalam keluarga kami, tanggung jawab saya sangat besar buat keluarga. Tuntutan demi tuntutan diarahkan kepada saya dan menjadi pertimbangan buat saya. Saya terus bergumul dengan masalah ini dan membawanya dalam doa. Saya tahu janji-Nya dan mengerti bahwa waktu Tuhanlah yang terbaik bagi kehidupan saya.

Setelah sekian lama saya bergumul, akhirnya saya mulai menemukan janji-Nya dalam hidup saya dan saya memutuskan untuk menetap di Yogya selama beberapa waktu. Saya tahu bahwa keputusan ini sulit untuk saya jalani. Saya tahu konsekuansinya, saya harus mulai membiayai hidup saya sendiri dan juga membantu keluarga. Pada awalnya terasa sulit, namun saya memutuskan untuk terus bertanggung jawab atas keputusan saya.

Lamaran demi lamaran saya ajukan dan pada akhirnya saya mendapat panggilan dan diterima bekerja sebagai sales marketing di salah satu perusahaan di Yogya. Suatu bidang pekerjaan yang sangat tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Awalnya saya sulit untuk beradaptasi, tetapi kemudian saya mulai menikmati pekerjaan saya dan mengalami bagaimana Tuhan bekerja dalam kehidupan saya. Satu demi satu pintu itu terbuka bagi saya. Saya bisa merasakan kebaikan Tuhan yang begitu nyata melalui pekerjaan saya.

Satu hal yang saya pelajari dari keputusan saya: setiap keputusan yang kita ambil selalu ada konsekuensinya, tetapi yang terpenting bagi kita adalah keberanian untuk membayar harga dari keputusan kita. Hanya yang berani dan setialah yang akan mendapatkan upahnya. ***

– Airways P. Siahaan

Jangan Jemu-jemu Berinteraksi dengan Firman Tuhan

November 10th, 2007 by suaragenerasibaru

JohnkaretjiJemaat mengadakan retreat kepemimpinan yang bertempat di wisma Taman Eden, Kaliurang, Jogjakarta. Disamping acara inti, pengajaran dari Pst. Eriel Siregar, gembala senior, hadir juga Pst. John Karetji yang dua hari sebelumnya membawakan dua sesi pengajaran untuk jemaat GBI Generasi Baru, Yogyakarta yang bertempat di wisma Immanuel.

Di sela-sela acara tersebut, Lukas Oktari mewawancarai Pst. John Karetji. Berikut petikan wawancara tersebut.

Apa pandangan bapak mengenai pelayanan kaum muda?

Selalu mengenal siapa mereka, mereka mempunyai  kebutuhan yang harus dikenal oleh seorang pelayan. Jadi, kaum muda punya dunia sendiri, untuk melayani mereka seorang pelayan harus mengenal jiwa mereka, situasi dan kondisi mereka supaya kita bisa membantu mereka dalam pergumulan mereka. Dunia kaum muda adalah masa pancaroba, mereka sedang mencari jati dirinya. Untuk melayani mereka, kita harus merakyat dengan mereka. Yesus juga mempersiapkan dirinya untuk pelayanannya. Butuh waktu tigapuluh tahun untuk Dia akhirnya memutuskan untuk melayani. Kuncinya adalah kenalilah siapa mereka, apa pergumulan, bagaimana kita bisa bantu mereka, pendekatan mana yang paling efektif. Pemuda di Jogja berbeda dengan jemaat California yang materialistik. Kita harus mengenal mereka.

Bagaimana bapak memulai pelayanan terutama untuk kaum muda?

Saya awali pelayanan saya pada tahun 1968, menjadi ketua kaum muda. Kita mulai dengan hanya puluhan orang akhirnya menjadi ratusan orang. Sekarang saya lebih fokuskan pada pelajaran Alkitab. Kita perlu mengejar kualitas dibanding kuanttitas. Yang sudah ada perlu dilayani untuk mereka bertumbuh dan bertambah, mendewasakan yang sudah ada. Saya rasa dengan mendewasakan yang sudah ada meraka akan menambah jumlah.

Di mana bapak memulai dan bagaimana bapak terlibat dalam pelayanan?

Saya mulai di Papua tahun 1968 saya bekerja sebagai pegawai rendahan di misi penerbangan. Saya juga menjadi aktivis di sebuah gereja lokal. Saya terlibat sedikit demi sedikit sambil belajar. Di mata Tuhan, kalau kita setia dalam perkara-perkara kecil maka Tuhan akan memberi tanggung jawab yang lebih besar. Jabatan terakhir saya adalah wakil presiden dari misi penerbangan tersebut di California.

Di dunia sekuler bapak  boleh dikatakan bisa berhasil/ lebih berhasil. Apa alasan bapak memilih untuk menjadi pelayan?

Anda orang kedua yang mengatakan demikian (sambil tersenyum) mungkin juga iya saya bisa menjadi bos. Pelayanan adalah kepuasan bagi saya. Kita telah diberikan seperangkat karunia rohani. Karunia rohani diberi untuk pelayanan bukan untuk diri sendiri. Karunia yang diberikan kepada kita kalau kita gunakan maka kita akan bersukacita. Itulah nikmatnya melayani. Sewaktu kita menikmati itu, kita sedang memuaskan Siapa yang memberikannya.

Apakah bapak punya visi khusus dari Tuhan?

Tidak ada visi khusus. Tuhan berbicara melalui firmann-Nya. Firman yang tertulis. Visi adalah sebuah kerinduan yang harus disesuaikan dengan firman Tuhan. Saya punya kerinduan dan firman Tuhan meneguhkannya.

Apa ayat emas bapak?

Yohanes 15:16. bukan kamu yang memilih Aku, Akulah yang memilih kamu. Tuhan punya rencana, Tuhan punya tujuan supaya kamu pergi dan berbuah dan buahmu itu tetap. Dialah yang memilih kita. Itulah pegangan saya. Tuhan telah memilih saya. Saya punya suatu ungkapan lagi : Jangan coba menerangkan tentang Tuhan sebelum belajar mentaati firman Tuhan.

Visi dan dunia sekuler. Bagaimana pandangan bapak?

Visi adalah proyeksi seorang pemimpin. Saya punya visi untuk membawa sesuatu pada tingkat tertentu. Kemudian saya membuat program-program yang bisa menyokong visi itu. Bagaimana saya menghantar setiap orang yang saya pimpin pada tingkat yang saya inginkan. Itulah visi saya.

Bagaimana bapak bisa ada bersama dalam pelayanan kaum muda dalam jemaat ini?

Saya….. (sambil berpikir) Salah satu anggota jemaat di Jakarta adalah teman saya. Saya menelpon mereka dan saya diundang untuk khotbah dan Pak Eriel bilang: Pak John, tolong layani teman-teman yang di Jogja. Akhirnya saya ke sini.

Apakah ada program khusus untuk jemaat ini?

Belum ada. Saya juga harus lihat sambutan teman-teman. Kalau mereka bosan kan saya tidak datang. Tetapi, saya puas dengan sambutan jemaat ini. Seperti ada kerinduan. Saya lihat ada sambutan teman-teman untuk saya kembali lagi. Kalau saya kembali pasti diterima.

Ada program spesifik untuk jemaat ini?

Secara umum, saya mau jemaat ini bertumbuh dalam pengertian keimanan mereka, dalam kedewasaan mereka. Saya punya kerinduan seperti itu.

Ada program konkrit?

Belum ada. Tapi kalau mereka mau, saya ingin tawarkan ”Injil bagi orang percaya”. Asumsinya banyak orang kristen belum paham tentang injil secara untuh, hanya di kulit saja. Injil itu adalah kekuatan Allah. Orang percaya jatuh bangun, injil punya kekuatan. Saya maemahami ini, yang kurang adalah pemahaman injil. Saya punya seri pengajaran untuk mengajar orang memahami  injil itu apa. Yesus datang untuk memberitakan injil, murid-murid diutus untuk mengajarkan injil.

Injil akan menjelaskan perbedaan pertobatan dan penyesalan. Takut malu. Injil adalah berita orang mati dibangkitkan bukan orang jahat menjadi baik. Kalau orang jahat menjadi baik, bagaimana dengan Nikodemus orang yang saleh itu. Dia tetap harus lahir baru. Mengapa? Semua yang di luar Tuhan adalah orang-orang yang mati. Tuhan tidak akan bisa berkomunikasi dengan orang yang jiwanya mati. Injil menjelaskan, Tuhan datang untuk membawa kita dari kematian kepada kehidupan. Itulah pertobatan.

Pengajaran-pengajaran yang bapak berikan adalah pengajaran sederhana dan prinsipil dalam kehidupan kita sehari-hari. Tanggapan bapak?

Saya mengarah pada merobah paradikmah orang. Merobah paradikmah berarti saya harus melibatkan dia dalam berpikir. Apakah saya mengerti, apakah saya benar-benar bertobat atau saya hanya takut malu. Rom 12., melalui pemahaman paradikmah untuk mengerti pengertian yang benar, saya selalu coba untuk melibatkan orang berpikir apalagi ini adalah mahasiswa. Pola pikir dia sedang dilatih disiplin berpikir. Mengajar bukan mengosongkan muatan truk (sambil dengan nada bercanda) saya datang, saya bagikan muatan saya, kemudian saya katakan kita jumpa lagi.

Waktu yang dipakai untuk pengajaran ini hanya 2-3 sesi. Waktunya sangat sempit. Alasan bapak?

Sengaja saya berikan. Karena begini, Pertama, pengajaran ini bagi saya adalah dasar yang prinsip. Saya hati-hati. Anda tahu inokulasi. Kalau anda diinokulasi anda akan resisten. Pada saat anda lagi butuhkan itu, itu tidak lagi bermanfaat,  saya hati-hati, saya hanya memilih  orang-orang yang saya rasa perlu untuk dibekali. Injil itu murah tapi bukan murahan. Makanya saya kasih centilan-centilan sedikit. Kalau kita programkan ini butuh waktu empat bulan untuk menyelesaikannya, kalau betul-betul kita mau memperdalam. Mempelajari Alkitab sama dengan ketika kita menyelam. Kita mencari akar permasalahannya. Kalau kita ambil contoh malaria, kita hanya bisa sembuhkan demamnya, kita kembalikan nafsu makanannya. Malarianya ada di dalam, kita tidak menyentuh. Kalau kita tidak mengenal. Injil mengajarkan kita mencari akar permasalahannya, mengapa orang ini berperilaku seperti ini, mengapa dia  tidak mempunyai keyakinan dalam dirinya, mengapa dia harus bertumpuh pada pengakuan orang lain untuk merasa bahwa dia punya jati diri. Itu adalah pengertian kunci, kita dibantu oleh injil untuk mengerti itu. Siapa kita, kita bukan hamba, kita adalah anak. Injil akan menjelaskannya.

Sewaktu pengajaran bapak mengatakan akan membuat buku!

Ehm. Saya punya kerinduan tetapi masih dalam tahap embrionik. Saya berikan seri kitab Yakobus karena praktis, hal-hal yang sederhana. Bagaimana mengalahkan dosa, bagaimana memiliki iman yang sejati, bagaimana memaknai pencobaan.

Dari pengajaran yang bapak berikan akan lebih membantu kalau dapat dibukukan!

Saya berterima kasih untuk dorongan anda. Sudah banyak orang yang mengatakan hal itu. Tuhan berbicara termasuk melalui anda, seorang pembicara belum tentu seorang penulis.

Gaya pengajaran bapak menarik bagi mahasiswa, apa resepnya?

Kenalilah siapa audiens anda, harus mengenal. Saya pernah menjadi mahasiswa, saya tahu mahasiswa. Masih ingatlah saya (dengan gayanya yang khas). Saya sadar bahwa anda adalah seorang mahasiswa.

Lelucon-lelucon segar membuat kita terus bertahan!

Itulah kuncinya. Daya serap orang perlu disentak, itu adalah ilmu komunikasi. Sengaja saya masukan.

Diusia ke 60 tahun ini, apa pengalaman yang menarik bagi bapak?

Sekali waktu saya dipanggil ke istana untuk mengangkat sumpah seorang pejabat. Dia percayakan itu pada saya karena saya telah membantu dia untuk bertumbuh. Kedua, saya bertemu dengan seorang. Mereka adalah keluarga baru. Saya tanya mereka mau kemana, mereka bilang mereka dalam perjalanan untuk melayani. Mereka katakan bahwa mereka terpanggil sewaktu saya mengajar di Selandia Baru.  Ketiga, seorang pendeta dua tahun yang lalu, saya menjadi pembicara utama digrejanya. Dia bilang saya mengenal dua suara, satu suara Tuhan dan satu suara bapak. Saya harus menjadi pelayan. Dia memutuskan untuk melayani. Itu indah bagi saya.

Sudah berapa negara yang bapak kunjungi?

Duapuluh empat, baru duapuluh empat.

Masih punya kerinduan?

Saya membatasi, karena faktor usia. Kita harus tahu diri juga.

Kota Jogja menjadi penting buat bapak sampai-sampai bapak mengumpulkan beberapa data tentang Jogja!

Apakah saya mengenal kota Jogja? Semua itu dalam rangka mengenal siapa audiensi saya. Kalau saya investasikan waktu saya buat Jogja, saya harus tahu data-data mengenai Jogja. Selalu mempelajari apa itu namanya…..(sambil berpikir menyesuaikan bahasa) demografi sebuah kota. Dari data itu saya bisa tahu berapa mahasiswa yang datang ke Jogja setiap tahun.

Potensi apa yang bapak lihat dari kota Jogja?

Di sini berarti kalau saya menginvestasi waktu saya di sini. Mahasiswa yang datang kita bekali dan mereka kembali, berarti saya menjangkau daerah di luar Jogja. Saya tidak mungkin ke semua daerah. Saya tidak mungkin ke Toraja atau ke Sumatera, tetapi kalau saya bisa membekali mereka dari sini dengan pertolongan Tuhan mereka bisa menjadi jembatan.

Apa yang kira-kira bapak mau titipkan untuk jemaat ini?

Pertama, jangan jemu-jemu berinteraksi dengan firman Tuhan, firman Tuhan itu hidup, firman itu adalah pelita, firman itu akan memelihara kita, jangan kita menjadi orang-orang yang menyembah Tuhan dengan bibir mulut tetapi hati kita jauh.  Kedua, doa. Ketiga persekutuan.

Kenapa firman Tuhan menjadi yang pertama?

Tuhan berbicara melalui firman-Nya. Dia akan berlalu tetapi firman Tuhan tidak akan berlalu. Pengang firman Tuhan. Simpan dalam hatimu. Jangan lupa kamu memperkatakan ini siang dan malam supaya kamu tahu bagaiman itu hidup dan hidup itu berhasil. Belajar mentaati firman Tuhan sebelum coba menerangkan tentang Tuhan. Taati maka dia akan buka rahasia-rahasiaNya.

Terima kasih untuk bincang-bincangnya?

Aduh…… sama-sama (sambil meninggalkan tempat dan bersiap-siap mengisi sesi pengajaran siang). ***

Sewaktu Aku Melayani Dia

November 10th, 2007 by suaragenerasibaru

OktoMasih teringat dengan jelas kejadian hari Sabtu tanggal 13 November setahun yang lalu itu. Sebuah kejadian yang sangat luar biasa bagi saya, sebuah pengalaman bersama Bapa. Malam minggu itu, saya melayani sekelompok anak SMP (sejak 2 minggu liburan itu saya menjadi guru kontrak di sekolah mereka).

Menonton film The Passion of the Christ, makan malam bersama, games yang seru, pujian penyembahan dengan beberapa lagu Sekolah Minggu seadanya dan firman Tuhan yang saya tutup dengan doa, membawa anak-anak sangat menikmati hadirat Tuhan. Saya sendiri dibuat terkejut oleh Tuhan. Dia ada bersama-sama dengan kami malam itu.

Beberapa anak bersukacita, tertawa dalam roh, menangis dan berbahasa roh. Mereka belum pernah mengalami, mendengar hal seperti itu sebelumnya, bahkan sewaktu saya berbahasa roh sekalipun tentu mereka tidak mendengarnya, apalagi menirukannya. Tetapi, malam itu saya mendengar mereka berbicara dalam bahasa yang tidak saya mengerti itu. Setiap anak remaja itu mengalami jamahan hadirat Tuhan. Tangisan, sorakan dan pujian tak berhenti keluar dari mulut mereka.

Pada saat yang bersamaan, sekelompok orang kampung datang dan menggedor pintu rumah saya, menendang pintu dan membentak kami. Saat itu saya sedang mendoakan beberapa anak. Mereka berusaha menyadarkan anak-anak yang sedang menikmati hadirat Tuhan dan mengancam saya untuk segera menghentikan pelayanan saya. Jujur saja, saya ketakutan. Tiga puluh tiga anak remaja itu berada di bawah tanggung jawab saya.

Saya menenangkan anak-anak malam itu, mencoba menguatkan dan meneguhkan hati mereka. Beberapa orang yang sekampung dengan saya, saya minta untuk pulang malam itu juga; beberapa anak putri menginap di kamar-kamar rumah saya yang telah saya siapkan untuk mereka. Sisanya, kami tidur bersama di ruang tengah.

Suasana masih mencekam waktu itu. Saya masih ketakutan! Beberapa orang kampung masih mengawasi kami dari halaman rumah. Saya meminta adik sepupu saya Victor (dari GBI juga, di Balikpapan, yang sedang liburan) untuk berdoa bersama saya. Saya gugup, lemas, gemetar dan pucat. Saya dan Victor berdoa di ruang belakang.

Saya berdoa dengan doa yang paling tulus dari semua perjalanan doa saya. Saya mengungkapkan ketakutan saya. Saya mengingatkan Tuhan akan semua hal yang Tuhan janjikan buat saya sebelum waktu liburan saya. Saya mengatakan, “Tuhan, Engkau yang mengetahui hati anak-anak remaja ini, mereka rindu akan Engkau. Sebelum aku menjadi guru mereka, aku  telah berdoa untuk dapat mengajar dan bersaksi buat mereka, tetapi pada waktu aku melakukannya, ada roh penolakan di sini. Tuhan, tolong aku!”

Kami menghentikan doa untuk sementara. Anak-anak sulit dikendalikan pada waktu itu. Saya keluar sebentar meminta pengertian mereka. Sementara itu, orang kampung masih juga mengawasi kami di luar rumah. Setelah agak tenang, kami kembali berdoa.

Saya mengatakan: Injil ditolak di mana-mana,tetapi saya mau berdiri untuk kota saya; saya rindu melihat Flores berubah; kemiskinan, kemelaratan berubah. Tanah yang kering dan gersang akan subur dan berair. Saya membagikan kerinduan dan harapan saya yang besar pada anak-anak remaja itu, sebuah generasi yang nantinya akan membawa perubahan.

Ketakutan saya pada kekerasan fisik orang kampung membuat saya mengatakan: saya belum ingin mati sebelum mengakhiri tugas pelayanan saya, saya ingin melihat Flores berubah.

Saya terdiam lama, saya kehilangan kata-kata dalam doa saya dan saya berpikir Victor akan memulai mendoakan saya. Beberapa kutipan firman Tuhan mulai terdengar. Saya merasakan hadirat Tuhan waktu itu, ada aliran dingin yang masuk, mengalir dari atas kepala saya. Sekian kalinya saya katakan: Saya takut! Tetapi, saya mendengar Victor berkata (saya percaya bahwa itu Tuhan yang berbicara): “Aku senantiasa menyertai kamu sampai akhir zaman.

Saya sendirian di sini. Kalau di Jogja, saya masih mempunyai pemimpin, ada apa-apa masih ada tempat untuk saya mengadu. Tetapi, bagaimana sekarang? Saya mendengar, “Aku senantiasa menyertai engkau anak-Ku, beribu-ribu sampai berlaksa-laksa malaikat menyertaimu, mereka tidak akan berani menyentuhmu.”

Dia menggenggam erat tangan saya, dan saya merasakan sesuatu yang berbeda. Saya sedang berbicara bersama Tuhan. Saya sempat bersoal jawab tentang beberapa hal. Dia berkata, “Tetaplah berdoa!” Saya mendapatkan kekuatan dan keberanian serta jaminan akan hidup saya.

Di tengah-tengah pertentangan banyak pihak (baik orang-orang kampung maupun rekan-rekan guru di sekolah), saya memutuskan untuk terus melayani anak-anak remaja itu. Secara sembunyi-sembunyi tentu saja. Saya terus bergairah untuk melayani mereka, mengajarkan banyak hal dari apa yang sudah saya dapatkan. Dua minggu sebelum kepulangan saya ke Jogja, saya menantang mereka untuk memberi diri dibaptis dan lima belas di antaranya bersedia. Mereka sekarang mempunyai kelompok sel God’s Family di bawah bimbingan kepala sekolah mereka.

Waktu berlalu, kesibukan dan halangan geografis menutup jalur komunikasi saya dengan mereka. Tetapi, saya tidak pernah membatasi Tuhan untuk terus bekerja bagi mereka. Saya percaya, firman Tuhan yang telah disampaikan tidak akan kembali dengan sia-sia. Suatu hari nanti buah-buah itu akan kelihatan, menguning dan siap dituai. ***

– Lukas Oktari

Saya Bukan Anak Kandung

November 10th, 2007 by suaragenerasibaru

KartikaSaya kelahiran 4 Juli 1984. Saya bertobat dan menerima Tuhan sewaktu kelas I SMA pada tahun 2000. Pada awalnya orang tua saya menentang, namun pada akhirnya mereka menerima juga. Seperti yang lain saya begitu berapi-api untuk melayani Tuhan dan karena saya suka menari, saya memilih untuk masuk tim dancer.

Sewaktu kelas III SMA gereja kami bekerja sama dengan sebuah gereja di Singapura memberikan beasiswa untuk sekolah menari. Saya bermimpi untuk mendapatkannya. Saya terus memaksa Tuhan dalam doa-doa saya, “Tuhan, kirim saya untuk menerima beasiswa ini.”

Malam sebelum keberangkatan saya ke Jogja, saya dipanggil orang tua saya untuk membicarakan dua hal penting. Pertama, mereka tidak mengizinkan saya untuk mengikuti sekolah menari itu.

Kedua, yang paling membuat saya kecewa, Mama mengatakan bahwa saya bukan anak kandung mereka. Saya sama sekali tidak menyangka, namun inilah kenyataan yang saya alami. Apalagi berita itu keluar dari mulut Mama yang selama ini paling saya sayangi.

Memang sebelumnya saya pernah mendengar cerita-cerita itu dari selentingan tetangga dan orang-orang terdekat kami. Antara percaya dan tidak, tapi kali ini Mama sendiri yang berbicara. Saya menangis, marah, tetapi tidak tahu kepada siapa. Jelas, saya kecewa pada Tuhan.

Dengan sangat terpaksa saya menyanggupi untuk kuliah di Jogja. Saya berangkat dengan membawa kekecewaan dan kepahitan. Tidak ada harapan apa pun selain menyerahkannya kepada nasib. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tidak peduli sama Tuhan sama sekali. Saya tidak mau bergantung pada Tuhan, apalagi melayani Dia. Selama satu setengah tahun, saya hidup tanpa Tuhan. Saya ke gereja, tapi itu hanya rutinitas.

Suatu waktu dalam suatu keadaan Tuhan menyentuh hati saya dan mengingatkan saya dengan firman ini, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu masa depan yang penuh harapan” (Yer. 29:11).

Tuhan mulai melembutkan hati saya dan mengingatkan saya akan setiap hal yang sudah Dia kerjakan dalam kehidupan saya, terutama sewaktu saya melayani Dia. Saya tahu bahwa Dia punya rancangan tersendiri bagi saya. Saya menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan berkomitmen untuk memulai lagi berjalan bersama Dia.

Sewaktu saya dilayani, saya berdoa dan berusaha untuk melepaskan pengampunan bagi Papa dan Mama kandung saya. Saya tahu bahwa berat juga bagi mereka untuk melewati hal ini. Waktu-waktu yang sulit, tetapi Tuhan memberi kedamaian di dalam hati saya dan mulai memulihkan hubungan-hubungan kami. Di jemaat saya mulai berkomitmen untuk melayani Tuhan dalam tim dancer. Saya menikmati pelayanan ini dengan luar biasa.

Sewaktu saya menjadi bagian di dalam kelompok sel, banyak dari mereka juga mengalami hal yang sama. Penolakan dalam keluarga, kepahitan dan kekecewaan. Saya jadi mengerti kenapa Tuhan mengizinkan semua hal ini terjadi.

Suatu waktu dalam kehidupan kita, kita melewati hal-hal yang tidak kita inginkan. Kita merasa bahwa Tuhan tidak adil sewaktu saat-saat sulit itu datang. Tetapi percayalah, Tuhan punya rancangan sendiri buat kita dan rancangan itu mendatangkan damai sejahtera. ***

– Kartika

Papa Berhenti Berjudi

November 10th, 2007 by suaragenerasibaru

Saya berasal dari Kefa, NTT. Saya sangat bersyukur dengan keluarga yang Tuhan berikan dalam kehidupan saya. Saya melihat Mama dan Papa sebagai sosok yang patut diteladani.

Papa selalu berkata, “Air jatuh tidak jauh dari pancurannya, tapi ada juga yang memercik jauh.” Maksudnya, sifat orang tua akan turun ke anaknya. Namun seorang anak harus menyaring kebiasaan-kebiasaan yang turun dari orang tuanya. Dengan kata lain “air yang memercik jauh” adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang harus dihindari.

Papa sering menasihati kami mengenai “air yang harusnya memercik jauh” darinya, yaitu kebiasaan-kebiasaan buruknya. Dari cerita dan nasihatnya, saya yang waktu itu masih SD pun sudah tahu Papa memiliki satu kebiasaan buruk, yaitu berjudi. Namun, seiring berjalannya waktu, keluarga dan saya menjadi terbiasa dengan kebiasaan buruk Papa itu. Tetapi, terlepas dari kebiasaan berjudinya, Papa tidak pernah lalai menunaikan tugasnya sebagai kepala rumah tangga.

Pernah suatu kali, seorang Pendeta membagikan baptisan air pada Papa sekaligus menegur Papa mengenai kebiasaan berjudinya. Tetapi Papa berdalih, “Saya tahu ada ayat yang melarang orang Kristen untuk berzinah, membunuh, mencuri atau dosa yang lain. Namun, saya tidak pernah menemukan ayat yang mengatakan secara tegas bahwa orang Kristen tidak boleh berjudi.” Hasilnya, berjudi tetap menjadi kebiasaan yang melekat padanya.

Akhir tahun 2000, saya pindah sekolah dan melanjutkan SMU di Solo. Di kota tersebut saya mengenal Tuhan dan lahir baru. Kemudian saya melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di Jogja.

Suatu waktu, saya sampai pada satu titik ketika saya mendapatkan bahwa saya harus berdiri buat keluarga saya. Saya yakin dengan merendahkan diri di hadapan Allah dan takut akan Dia, maka terang Allah akan memancar menerangi sekitar saya, terutama keluarga saya (II Sam. 23:4-5). Saya memulai komitmen baru saya untuk berdiri buat keluarga, dan terus berdoa dan berpuasa untuk keluarga.

Perlahan kehidupan keluarga saya mulai diubahkan. Mama menjadi mengerti pentingnya berdoa, dan jadi rajin ke gereja. Setiap hari Mama meluangkan waktu untuk berdoa, pagi, siang, dan bahkan malam. Mengetahui hal tersebut, saya semakin dikuatkan bahwa semua yang saya lakukan tidak pernah sia-sia. Saya bersukacita dan semakin yakin dengan rhema yang saya dapatkan pada II Samuel 23 tersebut.

Maret 2005, jalur pekerjaan Papa mengalami kemacetan. Hal ini membuat ia mempunyai lebih banyak waktu luang. Ia mengisinya dengan berjudi, main kartu dan mengisi togel. Awalnya Papa mengalami kemenangan demi kemenangan, yang membuatnya terus tergiur dalam kebiasaannya. Hingga sampai satu titik Papa mengalami kekalahan secara beruntun. Akhirnya ia memutuskan untuk bersepekulasi untuk mengambil kembali modalnya. Ia mempertaruhkan  uang sebanyak-banyaknya,dan yakin bahwa ia menang dan seluruh modalnya akan kembali. Namun, tragisnya, hal yang sebaliknya yang terjadi.

Tuhan, memang, turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Juni 2005, Mama tidak dapat mengirim uang bulanan untuk saya dan kakak. Mama menangis, dan Papa melihat kejadian itu. Kejadian itu menyadarkan Papa bahwa ia telah melakukan hal yang salah. Dan akibat perbuatannya, Mama dan anak-anaknya turut menanggungnya. Akhirnya, setelah berembuk, Papa dan Mama memutuskan untuk menggadaikan gelang dan kalung Mama, agar tetap dapat mengirim uang kepada kakak dan saya di Jogja.

Namun kemudian, perekonomian keluarga saya semakin memburuk. Adik laki-laki saya terpaksa harus menunda studinya setelah lulus SMU. Adik perempuan saya yang semula berencana melanjutkan SMU di Jogja pun harus mengurungkan niatnya. Tetapi, melalui kejadian tersebut, Papa berubah total. Ia tidak pernah lagi mengulangi kebiasaan buruknya. Tuhan sungguh bekerja di dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi kami sekeluarga.

Beberapa waktu kemudian, Papa pernah menelepon saya dan bertanya, “Nak, kamu marah nggak sama Papa?” Saya mengerti bahwa Tuhan sudah berperkara dalam keluarga saya. Ia menjawab doa saya.

Perekonomian keluarga kami perlahan mulai dipulihkan. Tuhan membuka jalan untuk pekerjaan-pekerjaan Papa dan melimpahkan berkat-Nya. Yesaya 60:5 menjadi nyata bagi saya. Saya heran, tercengang dan berseri-seri atas apa yang Dia lakukan terhadap hidup keluarga kami. ***

– Putriana So’ik

Tuhan Menjaga Adikku

November 10th, 2007 by suaragenerasibaru

Berti_2Saya sedang tidur siang ketika tiba-tiba saya tersentak bangun. Yang pertama-tama muncul di dalam pikiran saya adalah kedua adik saya yang rencananya akan bertolak dari Papua menuju Jawa pada hari itu. Entah mengapa saya merasakan dorongan yang kuat untuk berdoa bagi mereka. Mengikuti gerakan hati, saya segera menaikkan doa untuk keselamatan mereka dan agar Tuhan menyertai dan menjaga mereka di dalam perjalanan.

Tiga hari kemudian saya mendapatkan kabar bahwa salah satu adik saya tidak jadi ikut berangkat karena sesuatu hal, jadi hanya adik saya yang paling kecillah yang naik kapal. Mendengar kabar itu saya merasa khawatir. Bagaimana tidak, adik saya yang satu ini belum pernah pergi jauh dari rumah sebelumnya, belum lagi anaknya pendiam dan pemalu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana dia di atas kapal selama berhari-hari. Belum lagi pelabuhan di kota Surabaya yang pasti akan ramai dan penuh sesak.

Lalu saya teringat pada hari keberangkatan mereka, ketika saya berdoa untuk mereka. “Ah saya kan sudah berdoa bagi mereka,” pikir saya. “Hal itu pasti bukan kebetulan. Saya yakin Tuhanlah yang menggerakkan saya untuk berdoa bagi mereka pada waktu itu. Kalau demikian halnya pasti Tuhan akan menjaga mereka.” Saya segera merasa terhibur. Di dalam doa saya menyerahkan kekuatiran saya kepada Tuhan, mempercayakan adik kecil saya kepada-Nya.

Beberapa hari kemudian, saya pergi ke Surabaya untuk menjemput adik saya. Saya mengamati kapal itu, sambil mengira-ngira di mana adik saya berada. Ada tiga tangga di kapal itu dan tiga-tiganya disesaki oleh orang-orang yang berebutan naik dan turun dari dan ke kapal. Saya akhirnya memutuskan untuk naik melalui tangga yang paling belakang. Begitu tiba di anak tangga yang paling atas, hati saya serasa melompat melihat adik saya yang sedang berdiri di dekat tangga. Betapa leganya hati saya. Segera saja saya mendatangi dan memeluk dia.

Di dalam bis menuju Yogya, adik saya bercerita bahwa setelah tiga hari sendirian di atas kapal dia bertemu dengan beberapa orang yang ternyata mengenal saya, dan ketika mengetahui dia adik saya mereka menemaninya selama di kapal.

Saya terdiam mendengar ceritanya tetapi jauh di dalam hati saya, saya sangat bersyukur kepada Tuhan. Dia mengetahui apa yang akan terjadi dan mempersiapkan saya untuk menghadapinya, dan bukan hanya itu Dia juga mengurus segala sesuatunya sehingga pada akhirnya segala sesuatunya berakhir dengan baik. ***

– Bernadus Nikolaus Tingge, seperti diceritakan kepada Ester Bunawolo.