Jemaat mengadakan retreat kepemimpinan yang bertempat di wisma Taman Eden, Kaliurang, Jogjakarta. Disamping acara inti, pengajaran dari Pst. Eriel Siregar, gembala senior, hadir juga Pst. John Karetji yang dua hari sebelumnya membawakan dua sesi pengajaran untuk jemaat GBI Generasi Baru, Yogyakarta yang bertempat di wisma Immanuel.
Di sela-sela acara tersebut, Lukas Oktari mewawancarai Pst. John Karetji. Berikut petikan wawancara tersebut.
Apa pandangan bapak mengenai pelayanan kaum muda?
Selalu mengenal siapa mereka, mereka mempunyai kebutuhan yang harus dikenal oleh seorang pelayan. Jadi, kaum muda punya dunia sendiri, untuk melayani mereka seorang pelayan harus mengenal jiwa mereka, situasi dan kondisi mereka supaya kita bisa membantu mereka dalam pergumulan mereka. Dunia kaum muda adalah masa pancaroba, mereka sedang mencari jati dirinya. Untuk melayani mereka, kita harus merakyat dengan mereka. Yesus juga mempersiapkan dirinya untuk pelayanannya. Butuh waktu tigapuluh tahun untuk Dia akhirnya memutuskan untuk melayani. Kuncinya adalah kenalilah siapa mereka, apa pergumulan, bagaimana kita bisa bantu mereka, pendekatan mana yang paling efektif. Pemuda di Jogja berbeda dengan jemaat California yang materialistik. Kita harus mengenal mereka.
Bagaimana bapak memulai pelayanan terutama untuk kaum muda?
Saya awali pelayanan saya pada tahun 1968, menjadi ketua kaum muda. Kita mulai dengan hanya puluhan orang akhirnya menjadi ratusan orang. Sekarang saya lebih fokuskan pada pelajaran Alkitab. Kita perlu mengejar kualitas dibanding kuanttitas. Yang sudah ada perlu dilayani untuk mereka bertumbuh dan bertambah, mendewasakan yang sudah ada. Saya rasa dengan mendewasakan yang sudah ada meraka akan menambah jumlah.
Di mana bapak memulai dan bagaimana bapak terlibat dalam pelayanan?
Saya mulai di Papua tahun 1968 saya bekerja sebagai pegawai rendahan di misi penerbangan. Saya juga menjadi aktivis di sebuah gereja lokal. Saya terlibat sedikit demi sedikit sambil belajar. Di mata Tuhan, kalau kita setia dalam perkara-perkara kecil maka Tuhan akan memberi tanggung jawab yang lebih besar. Jabatan terakhir saya adalah wakil presiden dari misi penerbangan tersebut di California.
Di dunia sekuler bapak boleh dikatakan bisa berhasil/ lebih berhasil. Apa alasan bapak memilih untuk menjadi pelayan?
Anda orang kedua yang mengatakan demikian (sambil tersenyum) mungkin juga iya saya bisa menjadi bos. Pelayanan adalah kepuasan bagi saya. Kita telah diberikan seperangkat karunia rohani. Karunia rohani diberi untuk pelayanan bukan untuk diri sendiri. Karunia yang diberikan kepada kita kalau kita gunakan maka kita akan bersukacita. Itulah nikmatnya melayani. Sewaktu kita menikmati itu, kita sedang memuaskan Siapa yang memberikannya.
Apakah bapak punya visi khusus dari Tuhan?
Tidak ada visi khusus. Tuhan berbicara melalui firmann-Nya. Firman yang tertulis. Visi adalah sebuah kerinduan yang harus disesuaikan dengan firman Tuhan. Saya punya kerinduan dan firman Tuhan meneguhkannya.
Apa ayat emas bapak?
Yohanes 15:16. bukan kamu yang memilih Aku, Akulah yang memilih kamu. Tuhan punya rencana, Tuhan punya tujuan supaya kamu pergi dan berbuah dan buahmu itu tetap. Dialah yang memilih kita. Itulah pegangan saya. Tuhan telah memilih saya. Saya punya suatu ungkapan lagi : Jangan coba menerangkan tentang Tuhan sebelum belajar mentaati firman Tuhan.
Visi dan dunia sekuler. Bagaimana pandangan bapak?
Visi adalah proyeksi seorang pemimpin. Saya punya visi untuk membawa sesuatu pada tingkat tertentu. Kemudian saya membuat program-program yang bisa menyokong visi itu. Bagaimana saya menghantar setiap orang yang saya pimpin pada tingkat yang saya inginkan. Itulah visi saya.
Bagaimana bapak bisa ada bersama dalam pelayanan kaum muda dalam jemaat ini?
Saya….. (sambil berpikir) Salah satu anggota jemaat di Jakarta adalah teman saya. Saya menelpon mereka dan saya diundang untuk khotbah dan Pak Eriel bilang: Pak John, tolong layani teman-teman yang di Jogja. Akhirnya saya ke sini.
Apakah ada program khusus untuk jemaat ini?
Belum ada. Saya juga harus lihat sambutan teman-teman. Kalau mereka bosan kan saya tidak datang. Tetapi, saya puas dengan sambutan jemaat ini. Seperti ada kerinduan. Saya lihat ada sambutan teman-teman untuk saya kembali lagi. Kalau saya kembali pasti diterima.
Ada program spesifik untuk jemaat ini?
Secara umum, saya mau jemaat ini bertumbuh dalam pengertian keimanan mereka, dalam kedewasaan mereka. Saya punya kerinduan seperti itu.
Ada program konkrit?
Belum ada. Tapi kalau mereka mau, saya ingin tawarkan ”Injil bagi orang percaya”. Asumsinya banyak orang kristen belum paham tentang injil secara untuh, hanya di kulit saja. Injil itu adalah kekuatan Allah. Orang percaya jatuh bangun, injil punya kekuatan. Saya maemahami ini, yang kurang adalah pemahaman injil. Saya punya seri pengajaran untuk mengajar orang memahami injil itu apa. Yesus datang untuk memberitakan injil, murid-murid diutus untuk mengajarkan injil.
Injil akan menjelaskan perbedaan pertobatan dan penyesalan. Takut malu. Injil adalah berita orang mati dibangkitkan bukan orang jahat menjadi baik. Kalau orang jahat menjadi baik, bagaimana dengan Nikodemus orang yang saleh itu. Dia tetap harus lahir baru. Mengapa? Semua yang di luar Tuhan adalah orang-orang yang mati. Tuhan tidak akan bisa berkomunikasi dengan orang yang jiwanya mati. Injil menjelaskan, Tuhan datang untuk membawa kita dari kematian kepada kehidupan. Itulah pertobatan.
Pengajaran-pengajaran yang bapak berikan adalah pengajaran sederhana dan prinsipil dalam kehidupan kita sehari-hari. Tanggapan bapak?
Saya mengarah pada merobah paradikmah orang. Merobah paradikmah berarti saya harus melibatkan dia dalam berpikir. Apakah saya mengerti, apakah saya benar-benar bertobat atau saya hanya takut malu. Rom 12., melalui pemahaman paradikmah untuk mengerti pengertian yang benar, saya selalu coba untuk melibatkan orang berpikir apalagi ini adalah mahasiswa. Pola pikir dia sedang dilatih disiplin berpikir. Mengajar bukan mengosongkan muatan truk (sambil dengan nada bercanda) saya datang, saya bagikan muatan saya, kemudian saya katakan kita jumpa lagi.
Waktu yang dipakai untuk pengajaran ini hanya 2-3 sesi. Waktunya sangat sempit. Alasan bapak?
Sengaja saya berikan. Karena begini, Pertama, pengajaran ini bagi saya adalah dasar yang prinsip. Saya hati-hati. Anda tahu inokulasi. Kalau anda diinokulasi anda akan resisten. Pada saat anda lagi butuhkan itu, itu tidak lagi bermanfaat, saya hati-hati, saya hanya memilih orang-orang yang saya rasa perlu untuk dibekali. Injil itu murah tapi bukan murahan. Makanya saya kasih centilan-centilan sedikit. Kalau kita programkan ini butuh waktu empat bulan untuk menyelesaikannya, kalau betul-betul kita mau memperdalam. Mempelajari Alkitab sama dengan ketika kita menyelam. Kita mencari akar permasalahannya. Kalau kita ambil contoh malaria, kita hanya bisa sembuhkan demamnya, kita kembalikan nafsu makanannya. Malarianya ada di dalam, kita tidak menyentuh. Kalau kita tidak mengenal. Injil mengajarkan kita mencari akar permasalahannya, mengapa orang ini berperilaku seperti ini, mengapa dia tidak mempunyai keyakinan dalam dirinya, mengapa dia harus bertumpuh pada pengakuan orang lain untuk merasa bahwa dia punya jati diri. Itu adalah pengertian kunci, kita dibantu oleh injil untuk mengerti itu. Siapa kita, kita bukan hamba, kita adalah anak. Injil akan menjelaskannya.
Sewaktu pengajaran bapak mengatakan akan membuat buku!
Ehm. Saya punya kerinduan tetapi masih dalam tahap embrionik. Saya berikan seri kitab Yakobus karena praktis, hal-hal yang sederhana. Bagaimana mengalahkan dosa, bagaimana memiliki iman yang sejati, bagaimana memaknai pencobaan.
Dari pengajaran yang bapak berikan akan lebih membantu kalau dapat dibukukan!
Saya berterima kasih untuk dorongan anda. Sudah banyak orang yang mengatakan hal itu. Tuhan berbicara termasuk melalui anda, seorang pembicara belum tentu seorang penulis.
Gaya pengajaran bapak menarik bagi mahasiswa, apa resepnya?
Kenalilah siapa audiens anda, harus mengenal. Saya pernah menjadi mahasiswa, saya tahu mahasiswa. Masih ingatlah saya (dengan gayanya yang khas). Saya sadar bahwa anda adalah seorang mahasiswa.
Lelucon-lelucon segar membuat kita terus bertahan!
Itulah kuncinya. Daya serap orang perlu disentak, itu adalah ilmu komunikasi. Sengaja saya masukan.
Diusia ke 60 tahun ini, apa pengalaman yang menarik bagi bapak?
Sekali waktu saya dipanggil ke istana untuk mengangkat sumpah seorang pejabat. Dia percayakan itu pada saya karena saya telah membantu dia untuk bertumbuh. Kedua, saya bertemu dengan seorang. Mereka adalah keluarga baru. Saya tanya mereka mau kemana, mereka bilang mereka dalam perjalanan untuk melayani. Mereka katakan bahwa mereka terpanggil sewaktu saya mengajar di Selandia Baru. Ketiga, seorang pendeta dua tahun yang lalu, saya menjadi pembicara utama digrejanya. Dia bilang saya mengenal dua suara, satu suara Tuhan dan satu suara bapak. Saya harus menjadi pelayan. Dia memutuskan untuk melayani. Itu indah bagi saya.
Sudah berapa negara yang bapak kunjungi?
Duapuluh empat, baru duapuluh empat.
Masih punya kerinduan?
Saya membatasi, karena faktor usia. Kita harus tahu diri juga.
Kota Jogja menjadi penting buat bapak sampai-sampai bapak mengumpulkan beberapa data tentang Jogja!
Apakah saya mengenal kota Jogja? Semua itu dalam rangka mengenal siapa audiensi saya. Kalau saya investasikan waktu saya buat Jogja, saya harus tahu data-data mengenai Jogja. Selalu mempelajari apa itu namanya…..(sambil berpikir menyesuaikan bahasa) demografi sebuah kota. Dari data itu saya bisa tahu berapa mahasiswa yang datang ke Jogja setiap tahun.
Potensi apa yang bapak lihat dari kota Jogja?
Di sini berarti kalau saya menginvestasi waktu saya di sini. Mahasiswa yang datang kita bekali dan mereka kembali, berarti saya menjangkau daerah di luar Jogja. Saya tidak mungkin ke semua daerah. Saya tidak mungkin ke Toraja atau ke Sumatera, tetapi kalau saya bisa membekali mereka dari sini dengan pertolongan Tuhan mereka bisa menjadi jembatan.
Apa yang kira-kira bapak mau titipkan untuk jemaat ini?
Pertama, jangan jemu-jemu berinteraksi dengan firman Tuhan, firman Tuhan itu hidup, firman itu adalah pelita, firman itu akan memelihara kita, jangan kita menjadi orang-orang yang menyembah Tuhan dengan bibir mulut tetapi hati kita jauh. Kedua, doa. Ketiga persekutuan.
Kenapa firman Tuhan menjadi yang pertama?
Tuhan berbicara melalui firman-Nya. Dia akan berlalu tetapi firman Tuhan tidak akan berlalu. Pengang firman Tuhan. Simpan dalam hatimu. Jangan lupa kamu memperkatakan ini siang dan malam supaya kamu tahu bagaiman itu hidup dan hidup itu berhasil. Belajar mentaati firman Tuhan sebelum coba menerangkan tentang Tuhan. Taati maka dia akan buka rahasia-rahasiaNya.
Terima kasih untuk bincang-bincangnya?
Aduh…… sama-sama (sambil meninggalkan tempat dan bersiap-siap mengisi sesi pengajaran siang). ***